Hidupku adalah usahaku untuk menjadi manusia yang lebih baik

WARALABA

Banyak orang yang punya modal ingin berbisnis, tapi mereka tidak yakin bisnisnya bakal meraup keuntungan. Berbagai kendala dijadikan alasan seperti keahlian yang tidak memadai, belum punya jaringan, belum punya pengalaman bisnis dan lain-lain. Kini, sistem waralaba mampu menjembatani kebutuhan tersebut. Pemodal tinggal memilih jaringan waralaba yang sudah punya nama. Pewaralaba juga bakal menularkan resep, kiat manajemen, sistem, dan prosedur kerja yang sudah terbukti berhasil. Semuanya sudah disiapkan, pokoknya instan. Cuma, jalur cepat ini tetap saja berliku-liku dan mengandung risiko. Anda juga perlu kiat khusus dalam berbisnis waralaba.

Coba perhatikan jalan-jalan utama yang ada di dalam perkotaan. Di situ selalu tersedia dua jalur yaitu jalur lambat dan jalur cepat. Ketika ingin memulai sebuah usaha, Anda juga bakal menghadapi dua pilihan jalur: jalur lambat dan jalur cepat. Jika Anda memilih memulai usaha sendiri dari nol, itu artinya Anda memilih menempuh jalur lambat.

Memang sih, kalau lagi hoki mungkin saja usaha Anda meraup sukses besar dalam waktu singkat. Cuma, peristiwa seperti itu tak terlalu sering terjadi. Yang lebih sering, Anda harus melewati pengalaman jatuh bangun selama bertahun-tahun dahulu sebelum menjadi pengusaha berhasil.

Jalur Waralaba Lebih Mudah

Jika Anda baru mulai berbisnis dan tidak mau repot-repot memikirkan konsep bisnisnya ada satu pilihan alternatif jalur cepat, yaitu bergabung menjadi anggota jaringan waralaba atau franchise.

Dibandingkan dengan membuka usaha dari nol dan mengakuisisi bisnis orang lain, menjadi mitra waralaba (franchiser) merupakan cara yang paling cepat untuk menjadi pengusaha. Kalau dianalogikan dengan jalan, mirip-mirip jalan tol-lah. Dengan franchise, dalam tiga bulan bisa langsung buka usaha.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 42 Tahun 2007 tentang waralaba definisinya adalah hak khusus milik orang perorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.

Sistem waralaba menawarkan banyak kemudahan kepada calon pengusaha. Anda juga tak pusing-pusing memikirkan merek, pasar , dan juga sistem kerja usaha tersebut. Semuanya sudah tersedia, tinggal kita bagaimana mengelola. Bahkan, kadang pengelolanya pun sudah dilakukan kantor pusat. Singkatnya, Anda tak perlu membangun usaha dari nol dan mengalami jatuh-bangun dan Andapun tidak perlu keahlian khusus untuk terjun kedunia bisnis itu. Yang penting Anda punya modal dan bersedia menjalankan bisnisnya sesuai dengan sistem yang dibuat oleh pewaralaba. Terwaralaba juga harus terjun langsung dan terlibat dalam bisnisnya jika ingin sukses.

Bisnis waralaba mengalami pertumbuhan yang sangat pesat sejak tahun 2007 hingga beberapa tahun terakhir. Di mana-mana kita bisa temui produk barang atau jasa dengan sistem waralaba karena minat masyarakat untuk berbisnis dengan sistem waralaba memang luar biasa. Kini pilihan bidang bisnis yang diwaralabakan saat ini juga sudah sangat banyak. Waralaba restoran saja jumlahnya ada puluhan, bahkan ratusan. Sebut saja waralaba Es Teler-77, Bakmi Japos, Bakso Cak Man, Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk, Sapo Oriental, Peaches Tea House, Rice-Bowl, Bakmi Langgara, Red Crispy, dan masih bayak lagi. Selain itu masih ada pula waralaba di bisnis pendidikan anak-anak, apotek, salon, klinik kecantikan, sekolah musik, titipan kilat, dan bahkan gerai sulam-menyulam (lihat daftar waralaba). Tinggal pilih saja mana yang sesuai dengan selera Anda.

Anda tentu berpikir kenapa pemilik waralaba membuka peluang bagi orang lain untuk menikmati bisnisnya? Jawabnya adalah pewaralaba biasanya ingin ekspansi dengan kecepatan penuh. Padahal, ekspansi usaha tidak bisa lepas dari penambahan modal. Modal memang bisa didapat dari pinjaman bank atau lembaga keuangan lainnya. Tapi lebih mudah jika pewaralaba melibatkan investor yang bersedia menanamkan modal. Artinya, pewaralaba nebeng modal dari terwaralaba untuk mengembangkan usahanya. Sebagai balasannya, pewaralaba membantu terwaralaba membuka gerai dengan menggunakan merek pewaralaba. Cara tersebut juga mengalihkan sebagian kerepotan pewaralaba kepada terwaralaba. Dan, pewaralaba masih memungut biaya waralaba (franchise fee) atas penggunaan nama dan sistem bisnis yang dimilikinya, serta biaya royalti (royalty fee) yang besarnya sekian persen dari omzet penjualan tiap bulan. Keuntungan bagi pewaralaba adalah bisa menikmati royalti yang lebih besar jika usaha terwaralabanya sukses, namun kalau sampai terwaralaba bangkrut, kerugian sepenuhnya ditanggung terwaralaba.

Mengembangkan waralaba tak selamanya berujung sukses. Tidak sedikit yang gagal dan bangkrut. Bagaimana meraih kesuksesan sebagai terwaralaba?.

Kejelian memilih waralaba sebenarnya hanyalah sebagian dari serangkaian kiat sukses di bisnis ini. Maklum, faktor sukses dalam mengembangkan bisnis waralaba memang cukup multidimensional. Misalnya, pada aspek mentalitas. Hal pertama yang perlu ditegaskan, memang benar berbisnis waralaba berpotensi sukses lebih besar ketimbang membangun usaha sendiri. Sebab, telah memiliki sistem dan merek yang kuat dari pewaralaba. Namun, bisnis ini tetap membutuhkan keterlibatan dan perhatian penuh investor.

Ia tak bisa dilihat sebagai investasi portofolio seperti saham atau properti yang dengan diam saja suatu saat nilai uang kita akan membiak. Kalau berpikir dengan beli franchise berarti dengan ongkang-ongkang kaki bisa sukses, itu menyesatkan. Pembeli franchise yang gagal biasanya yang pola pikirnya seperti itu.

Agar sukses mengembangkan bisnis waralaba, tetap diperlukan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) pembeli waralaba. Maklum, jiwa ini akan memengaruhi kegigihan dan keuletannya dalam membangun bisnis waralaba yang dibeli. Harus dicatat, meski rata-rata waralaba yang dibeli sudah punya sistem dan prosedur pengelolaan bisnis yang baku, di mana pun bisnis sering mengalami masa-masa tak mulus sehingga butuh kemampuan pembeli waralaba mencari solusi kreatif yang sifatnya lokal.

Bagi pemilik dana yang ingin mencoba berbisnis dengan membeli waralaba, ada beberapa tahapan penting yang sebaiknya dijalankan. Pertama, sebelum memulai segalanya, calon pembeli melihat posisinya, baik latar belakang pendidikan, bidang bisnis yang diminati, maupun pengalaman. Pengalaman yang dimaksudkan bisa berupa pengalaman kerja di luar atau pengalaman berbisnis sendiri. Perlu juga bertanya pada diri sendiri, apakah memang suka berhubungan dan mengelola orang lain serta pernahkah punya pengalaman gagal-sukses dalam mengelola orang?.

Juga perlu, mengaca kemampuan keuangannya, termasuk seberapa banyak aset likuid yang dimiliki, jumlah uang yang dimiliki yang siap diinvestasikan dan “hilang” untuk membeli waralaba. Mengetahui posisi keuangan, minat, pengalaman dan kemampuan berbisnis akan sangat membantu dalam mengarahkan pilihan bidang waralaba yang cocok dan berpotensi sukses.

Setelah mengetahui jenis-jenis industri, sebaiknya calon pembeli waralaba mengevaluasi mana bidang industri yang menjadi minatnya dan cukup berpotensi dikembangkan di wilayahnya. Di sini calon pembeli memang harus mengetahui pasar yang bakal dimasuki. Franchise yang sukses dikembangkan di suatu tempat belum tentu sukses di daerah Anda.

Di sini pesan pentingnya, calon pembeli franchise harus pintar-pintar mengalkulasi kelayakan skala ekonomi suatu franchise untuk dikembangkan di suatu tempat. Baru setelah mengetahui bidang-bidang yang berpotensi dikembangkan di suatu pasar, calon pembeli waralaba harus menggali alternatif waralaba terbaik yang ada, mengevaluasi, kemudian menyeleksinya.

Ada baiknya calon pembeli waralaba memiliki banyak sumber informasi untuk memutuskan, jangan hanya mengandalkan informasi sepihak dari perusahaan penjual waralaba. Sumber informasi bisa asosiasi perusahaan, buku, konsultan, website dan artikel di media massa yang belakangan memang sering mengupas bisnis waralaba dan kiprah para pelakunya. Pertanyaan besarnya, tentu, seberapa prospektif dan menguntungkan warabala tersebut, seperti apa track record perusahaannya serta bagaimana kinerja keuangannya.

Untuk menggali berbagai informasi seputar beberapa waralaba yang mau dibeli, salah satu langkah yang tak boleh ditinggalkan ialah menggali informasi dan pengalaman dari terwaralaba yang lebih dulu membelinya (existing franchisee). Dengan mengontak mereka biasanya akan diperoleh informasi yang lebih objektif. Ada banyak pertanyaan yang bisa diajukan ke mereka. Antara lain, puaskah Anda dengan waralaba dan pewaralaba, serta berapa lama bisa mencapai return on investment.

Soal memilih waralaba apa yang bakal dibeli ini memang paling krusial. Waralaba yang sebaiknya dipilih tentu yang keuangannya benar-benar solid. Jangan sampai membeli hak waralaba dari perusahaan sakit yang menyimpan bom kebangkrutan. Karena itu, sebisa mungkin calon pembeli waralaba melakukan due diligence secara diam-diam. Cari informasi sebanyak-banyaknya soal franchisor itu mulai soal kepuasan pelanggan, kepuasan franchisee, hingga reputasi pewaralaba di hadapan supplier dan bankir.

Tentu, yang juga harus digali lebih dalam adalah soal isi tawaran waralaba itu sendiri, termasuk fee dan kontrak-kontrak ikatan yang ada, dan bandingkan dengan waralaba sejenis lainnya yang sama-sama potensial dibeli. Pokoknya, cari informasi sedalamnya ke franchisor agar tak beli kucing dalam karung.

Agar lebih aman, sebaiknya memilih waralaba yang bisnisnya tak gampang ditiru pesaing di kemudian hari. Juga, diferensiasinya jelas dan entry barrier buat pemain lain sangat sulit. Waralaba tersebut pun yang benar-benar telah terbukti menguntungkan selama bertahun-tahun berturut-turut, setidaknya dalam 3-4 tahun terakhir, sebagai salah satu faktor yang membuktikan bahwa bisnis itu cukup menjanjikan.

Langkah terakhir sebelum beroperasi, calon terwaralaba mesti minta diberi pelatihan oleh pewaralaba. Termasuk, pelatihan buat staf, karena peran mereka juga sangat krusial dan sering menjadi titik gagal waralaba. Maklum, di garis inilah ujung tombak bisnis waralaba. Meski merek waralaba sudah bagus, tetap harus merekrut sumber daya manusia di garis depan yang benar-benar unggulan dan berpotensi dikembangkan.

Pada tahapan ketika bisnis waralaba sudah beroperasi, pewaralaba sebaiknya terus mengikuti prosedur operasional standar (SOP) yang diberikan pewaralaba. Umumnya, SOP yang mereka berikan terbukti sukses di banyak gerai terwaralaba lain. Namun, tetap saja terwaralaba jangan menggantungkan segalanya pada upaya pewaralaba. Contohnya, soal promosi dan akuisisi pelanggan baru di pasar, terwaralaba harus berinisiatif mencari media promosi lokal untuk menggenjot penjualan. Antara lain, melakukan cobranding dengan mitra lokal dan promosi gabungan.

Bila diamati, pembeli waralaba yang sukses rata-rata memang orang yang kreatif dan mencoba mencari celah-celah promosi di wilayahnya meski hal itu tak diatur pewaralaba. Terwaralaba yang sukses harus mencari solusi kreatif terhadap persoalan pasar di wilayahnya. Sebab, bagaimanapun, dia lebih tahu soal pasar di wilayahnya ketimbang pewaralaba.

Pertanyaan Penting kepada Pemilik Waralaba

1.Berapa investasi awal secara keseluruhan yang dibutuhkan termasuk modal kerja dan fee waralaba?

2.Berapa lama payback period-nya (berdasarkan EBITDA: artinya tidak memperhitungkan bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi)?

3.Berapa target penjualan per tahun untuk mencapai payback period tersebut?

4.Target ini didukung atau dihasilkan dari evaluasi terhadap kinerja historis gerai pewaralaba yang ada ataukah tidak? Asumsi-asumsi apa yang digunakan dalam pencapaian payback period tersebut (biaya sewa, listrik, telepon, gaji karyawan, dsb.)?

5.Dari pembeli waralaba yang ada, berapa tahun rata-rata bisa balik modal? Yang tercepat berapa tahun?

6.Adakah pembeli waralaba yang gagal? Kenapa?

7.Berapa rata-rata keuntungan bulanan gerai waralaba yang sudah ada?

8.Bolehkah kita melakukan studi banding ke beberapa gerai terwaralaba?

Pertanyaan Penting kepada Investor yang Lebih Dulu Membeli Waralaba yang Sama

1.Puaskah Anda terhadap kinerja bisnis waralaba yang Anda beli dan pemilik waralabanya? Kenapa?.

2.Berapa lama Anda bisa mencapai return on investment? Apakah itu sesuai dengan target?

3.Berapa kisaran pendapatan Anda dari bisnis waralaba ini dan apakah itu sesuai dengan ekspektasi Anda?

4.Apakah master franchise menyediakan pelatihan memadai buat Anda sebelum bisnis dimulai?

5.Adakah biaya atau fee tak terduga yang ditarik pewaralaba?

6.Apakah teritori yang diberikan kepada Anda cukup memadai untuk mewujudkan target Anda?

7.Apa saja aturan yang bagi Anda memberatkan yang diwajibkan pemilik waralaba?

8.Apakah pemilik waralaba benar-benar memberikan dukungan promosi dan periklanan memadai?

9.Seberapa serius pemilik waralaba membantu Anda mencapai sukses?

10.Anda sendiri sebelumnya berlatar belakang apa?.

Nah, agar tidak menyesal di belakang hari, perhatikan beberapa tip berikut ini.

1.Kenali dahulu karakter Anda seperti apa. Biasanya pengusaha tidak leluasa untuk mengadakan inovasi produk atau diskon-diskon. Pasalnya semua konsep bisnis tersebut sudah diatur oleh pewaralaba, maka disarankan agar Anda mengambil usaha waralaba yang memang sudah mapan. Kalau belum mapan, terwaralaba malah bisa jadi korban.

2.Anda harus melihat prospek bisnis yang ditawarkan para pewaralaba. Lihat dahulu, bagus nggak produknya, laku enggak, digemari enggak oleh masyarakat. Perhatikan bahwa ada bisnis waralaba yang sifatnya sangat musiman. Misalnya adalah bisnis jagung manis dan bubble tea. Beberapa waktu lalu kedua jenis waralaba itu benar-benar booming. Tapi, kini siklus bisnisnya sudah mulai menurun

3.Sebaiknya Anda mempelajari karakter orang atau perusahaan yang menawarkan waralaba tersebut. Pelajari reputasinya bagaimana. Untuk memperoleh gambaran yang lengkap, Anda perlu bertemu langsung dengan penanggung jawab atau pemilik perusahaan franchisor. Jangan segan untuk menyelidiki kondisi keuangan dan track record pewaralaba di masa lalu. Misalnya, Anda bisa menanyakan berapa jumlah terwaralaba yang berhasil dan berapa yang gagal. Jika lebih banyak gerai yang merugi atau tutup, tentu, bisnis waralaba ini kurang layak untuk diikuti. Oh ya, biar lengkap Anda bisa mencoba menggali informasi langsung dari terwaralaba lama yang lebih dulu beroperasi. Jika ia termasuk terwaralaba yang berhasil, Anda bisa minta tips-tips darinya.

4.Ada dua kelebihan utama yang dimiliki pewaralaba: merek (brand) dan sistem atau model bisnis. Tentu keduanya harus top karena sama-sama penting. Brand yang bagus mencetak keuntungan, dan sistem itu mempercepat keuntungan itu datang kepada Anda. Jadi, jangan sekali-kali ikut waralaba yang mereknya sama sekali tidak terkenal.

5.Anda harus mencermati skim kerja sama yang ditawarkan. Hati-hati, sebab skim kerjasama waralaba itu sangat tidak standar. Lain pewaralaba, lain pula skim kerjasamanya. Soal modal misalnya, ada pewaralaba yang mensyaratkan modal yang besar tapi memasang tarif royalty fee (bagi hasil penjualan) yang kecil. Sebaliknya, ada yang menuntut setoran modal kecil, tapi tarif royalty-nya tinggi. Anda sanggup enggak kira-kira memenuhi persyaratan itu. Sebelum menandatangani kontrak atau perjanjian yang disodorkan Anda sebaiknya juga mempelajari dan mencermati draf kontrak itu sebaik-baiknya. Ingat, semua kewajiban dan hak Anda tercatat dalam dokumen kontrak itu. Jagan sampai kontrak itu hanya merugikan Anda.

6.Bisnis waralaba bukanlah deposito memberikan bunga bulanan. Karenanya, jangan menginvestasikan semua duit Anda dalam bisnis waralaba yang ingin anda masuki. Soalnya, bagaimanapun bisnis itu tetap memiliki risiko dan bisa merugi.

7.Sebaiknya Anda belajar dari pengalaman para pendahulu Anda yang gagal dalam bisnis waralaba mereka. Kegagalan usaha franchise yang paling sering terjadi adalah akibat salah memilih lokasi. Jadi, Anda mesti membuka gerai waralaba di lokasi yang benar-benar strategis. Selain itu, banyak orang juga gagal karena salah memahami bisnis waralaba. Ketika membeli franshise dia merasa bisa ongkang-ongkang; padahal dia tetap harus mengontrol usahanya itu. Berikutnya, kegagalan juga sering timbul karena karyawan atau sumber daya manusia (SDM) terwaralaba tidak memperoleh pendidikan yang cukup dari pewaralaba. Ada pula terwaralaba yang gagal karena tidak memperoleh dukungan dari keluarganya. Jadi, jangan coba-coba ikut waralaba tanpa dukungan keluarga.

Keberhasilan bisnis yang menggunakan sistem jaringan waralaba ternyata tidaklah sesederhana yang dibayangkan semula. Hal paling mendasar yang perlu diperhatikan oleh seorang calon terwaralaba adalah latar belakang pewaralaba atau pengusahanya, bonafiditas, pengalaman, potensi pasar, peta persaingan serta keunggulan dan keunikan produk. Pilihlah pewaralaba yang sudah menghasilkan laba lebih dari tiga tahun, karena hal ini mengindikasikan bahwa perusahaannya sudah teruji. Selidiki pula reputasi mereka melalui brand waralabanya, karena akan lebih menguntungkan apabila memilih pewaralaba yang brand-nya sudah dikenal di masyarakat. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah masalah keterbukaan. Biasanya si pewaralaba tidak akan pelit memberikan informasi apa pun yang diminta calon investor sepanjang berhubungan dengan perusahaannya. Nah, karena waralaba tidak saja menghasilkan keuntungan tapi juga bisa rugi dan gulung tikar, jadi jangan sekali-kali mempertaruhkan seluruh kekayaan Anda untuk berbisnis waralaba.

Incoming search terms:

pengertian media promosi, pengertian masalah kewirausahaan, pengertian ekspansi bisnis, jenis segmentasi pasar, definisi lokasi strategis, usaha restoran gagal, jenis jenis kewirausahaan, definisi diskon, pengertian produk unggulan, studi kelayakan bisnis restoran, definisi bisnis kecil, standar operasional apotek, makalah bisnis keluarga, latar belakang pedagang bakso, standar operasional salon, syarat sop, faktor x kewirausahaan, ciri perusahaan bangkrut, operasional prosedur spa, memilih lokasi wirausaha
Be Sociable, Share!


Category: Peluang Usaha
Tags:

Leave a Reply

*