Bagi sebagian besar pengusaha memiliki cabang di setiap sudut kota dianggap sebagai barometer keberhasilan usaha, setidaknya, pamor serta citranya akan terangkat. Tak heran jika ekspansi besar-besaran pun kerap dilakukan. Padahal, ada tahapan yang wajib dilalui sebuah usaha sebelum memutuskan untuk membuka cabang baru agar tak gampang goyah. Apa saja yang perlu dilakukan?
Memiliki banyak cabang usaha merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi seorang pengusaha, apalagi jika semua cabang yang didirikan menuai sukses seperti yang diinginkan. Namun, pada kenyataannya justru banyak usaha yang tumbang akibat ekspansi gila-gilaan para pemiliknya. Banyak cerita bisnis yang kolaps gara-gara tak mampu mengendalikan laju pengembangannya yang sangat agresif.
Menurut Ir. Achsan Permas MBA, Direktur Utama Lembaga PPM ada usaha yang produknya sangat tergantung pada lokasi tempat usaha. Misalnya Brownies Amanda dan Roti Kartikasari di Bandung. Keterikatan kedua jenis makanan ini tak lagi bisa dipisahkan dari kota Bandung, bahkan keduanya dianggap sebagai makanan khas yang hanya ada di sana. Alhasil jika Brownies Amanda dan Kartika sari membuka cabangnya di daerah Jakarta atau wilayah di luar Bandung hampir diipastikan besaran omset yang diraupnya akan menyusup tajam.
Demikian pula dengan Bakso Lapangan Tembak, yang bertahan menjual produk bakso sejak 1972 silam di daerah Senayan. Saat ini bisnis Bakso Lapangan Tembak terus melebar hingga mampu mengembangkan outletnya menjadi 60 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia meski tak semuanya sukses seperti pusatnya yang ada di Senayan. Menurut Kusuma Adi Agung, generasi kedua pemilik Bakso Lapangan tembak masalah utama yang muncul adalah pemilihan lokasi. “Meski survey sudah kami lakukan dan segala bentuk standar mutu sudah disamakan tetapi masih ada saja beberapa cabang yang kurang ramai dibandingkan dengan cabang lainnya,”tuturnya. Bahkan Agung menyebutkan jika selisih persentase omset antara tempat usaha yang ramai dengan cabang yang tidak ramai mencapai 30 persen.
Menurut Roy Goni, pengamat bisnis dari Universitas Atmajaya fenomena tersebut lazim dialami oleh semua jenis usaha yang memiliki cabang. Ia juga menyebutkan 4 faktor yang menjadi sebab sebuah cabang sulit berkembang. Faktor pertama, sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Achsan Permas adalah masalah lokasi yang senantiasa menjadi pokok masalah terhadap kuat tidaknya sebuah cabang usaha. Hal ini disebabkan karena konsumen memiliki keterikatan yang lekat dengan tempat usaha terdahulu akibatnya meski sudah ada cabang baru tetapi kepuasan rasa tidak bisa terpenuhi. Faktor kedua adalah kemudahan, biasanya konsumen mencari makanan yang enak, murah dan mudah terjangkau. Sehingga ada rasa enggan untuk mencari lokasi baru yang belum terlalu familiar. Yang ketiga adalah komunitas, biasanya di sebuah tempat usaha yang ramai oleh pelanggan ada interaksi yang ketat antara pemilik dengan pelanggan. Saat ada cabang baru, komunitas yang sudah dekat ini memilih akan ke tempat lawas dibandingkan ke tempat baru, sebab belum tentu ia akan mendapatkan suasana seperti yang ia dapatkan di tempat yang lama. Dan faktor terakhir adalah kurang kuatnya brand yang ditawarkan kepada konsumen. Sebab seringkali terjadi suatu makanan menjadi favorit hanya di suatu wilayah tetapi tidak di wilayah yang lain. “Misalnya saja untuk Bakso Lapangan Tembak memang jagonya bakso di daerah Senayan, tetapi bagi masyarakat yang berada di daerah Menteng tak semua warganya familiar terhadap jenis makanan tersebut.”
Masa Ideal Perusahaan Memiliki Cabang
Bambang Bhakti, pengamat bisnis mengungkapkan sebenarnya tidak ada patokan yang baku kapan sebuah usaha boleh membuka cabang yang baru, yang terpenting system yang terbentuk harus kuat dulu. “Misalnya bagi perusahaan yang baru berdiri sebaiknya ditunggui sendiri, segala macam pelayanannya pun dikelola dan ditangani sendiri agar tahu bagaimana system manajemen yang baik, dan mampu mempertahankan usahanya tersebut tetap eksis,” tutur Bambang. Menurutnya, ekspansi bisa dilakukan asal memegang prinsip kehati-hatian. Contoh yang ideal adalah usaha Bakmi Gajah Mada. Sementara itu, Roy Goni lebih melihat dari sisi penguatan brand, maksudnya seorang pengusaha yang hendak membuka cabang sebaiknya dilakukan saat brandnya sudah mampu membuktikan eksistensi usahanya lewat jangka waktu tertentu. “Lima tahun ke atas merupakan waktu yang ideal bagi suatu usaha untuk memulai berekspansi membuka cabang,” tuturnya.
Menyelamatkan Cabang yang Hampir Tumbang
Nah, bagi usaha yang sudah terlanjur membuka cabang tetapi kondisinya tak memuaskan sebagaimana tempat usahanya terdahulu maka Roy Goni memberikan cara menyelamatkannya melalui system marketing yang paling efektif guna mendongkrak penjualan. Yaitu, membentuk sebuah komunitas baru yang loyal terhadap produk yang dijual sebab tak ada jalan pintas yang bisa dilakukan sekali kemudian berhasil mengembangkan cabang tersebut menjadi besar. Caranya melalui pelayanan yang tak sekadar mengandalkan kepentingan bisnis semata tetapi membuat keterikatan secara emosional antara penjual dengan pembeli, di sini pihak penjual menjadi pihak yang aktif melakukan pendekatan.
Sementara Bambang Bhakti menyarankan untuk melakukan in door display ke seluruh cabang yang ada. Misalnya tulisan yang menunjukkan bahwa tempat itu sebagai cabang dari jenis makan di kota di mana makanan itu sudah sangat dikenal. Selain itu, senada dengan Roy Goni, ia juga menyarankan agar cabang yang baru tersebut harus mampu menciptakan dirinya sesuai dengan citra local dengan membuat komunitas sendiri. Sementara Achsan Permas menyarankan untuk membuat bisnis paket menyeluruh artinya harus dibuat standardisasi produk, lokasi atau tempat, dan pelayanan sesuai dengan tempat pusatnya. Sementara metode untuk mencari lokasi bisa menggunakan metode titik berat, yaitu dilakukan survey pendahuluan untuk melihat segmen pasar mana yang paling banyak peminatnya jika ada dua atau lebih daerah untuk membuka cabang baru.
Tips Membuka Cabang Agar Tetap Eksis
Bagi Anda yang hendak membuka cabang, sebaiknya mengikuti petunjuk “ 5 S” di bawah ini, agar investasi yang sudah dikeluarkan tidak sia-sia dan cabang yang dibangun tetap eksis antara lain:
1). Standar Mutu
Standar mutu berhubungan erat dengan produk yang dihasilkan. Oleh karena itu sebelum memutuskan untuk membuka cabang baru harus benar-benar dipersiapkan mulai dari bumbu, cara memasak hingga penyajian yang sama persis antara tempat usaha yang satu dengan tempat usaha yang lain. Salah satu caranya, jika jarak antara pusat dengan cabang berdekatan maka produk dapat dikirim, tetapi jika letaknya berjauhan maka harus mencari orang yang mampu melakukan pekerjaan dengan hasil serupa.
2.) Standar Pelayanan
Hal yang kedua adalah menyamakan standar pelayanan agar konsumen merasakan suasana yang sama saat ia menikmati produk di tempat yang satu dengan cabangnya di tempat lain. Pelayanan ini mulai dari cara melayani, seragam yang dikenakan, bahkan keramahan yang ditunjukkan sehingga konsumen tidak merasa asing untuk menikmati produknya.
3.) Standar Harga
Harga menjadi hal yang sangat penting bagi pengembangan usaha. Jangan sampai antara cabang yang satu berbeda harganya dengancabang yang lain padahal menu yang disajikan sama. Soal harga ini juga tidak boleh terpengaruh dengan lingkungan tempat usaha. Misalnya untuk lingkungan kelas jet set menggunakan harga yang tinggi dan kelas bawah menggunakan harga yang rendah.
4.) Standar Image
Jadi, cabang yang baru terbentuk menyesuaikan diri dengan tempat usaha yang lama. Ia juga wajib menjaga image yang sudah dicitrakan.
5.) Standar SDM
Maksudnya orang-orang yang bekerja antara tempat cabang yang satu dengan cabang yang lain memiliki keahlian dan kemampuan yang relatif sama sehingga produk yang dihasilkan pun bisa serupa. Pun, masalah pengelolaan manajemen dan marketing, menggunakan sistem yang sama.
