Hidupku adalah usahaku untuk menjadi manusia yang lebih baik

Brand Berbau Asing Lebih Menjual?

Brand atau merek erat kaitannya dengan produk yang ditawarkan. Disadari atau tidak UKM masih belum memikirkan untuk membangun brand dari produk yang dihasilkan. Padahal jika sejak dini mengenalkan produk yang dibarengi dengan membangun brand, mungkin saja UKM bisa menjadi perusahaan besar dan dapat menyaingi brand asing. Apa yang dapat dilakukann UKM agar memiliki brand yang kuat dan diterima masyarakat? Apa benar brand yang “terkesan asing” lebih menjual?

Tak kenal maka tak sayang” penggalan kata itu juga ternyata berlaku di dunia bisnis. Bagaimana tidak, brand sebagai identitas pembeda suatu produk/jasa memiliki pengaruh penting bagi penjualan dan kelangsungan hidup produk. Bukan hanya itu, brand menggambarkan kualitas produk yang diberikan. Sehingga tak jarang, jika konsumen sudah klik dengan brand tertentu, dipastikan mereka akan loyal. Alhasil, kekuatan suatu brand dapat mendatangkan keuntungan bagi pemilik usaha.

Banyak produk lokal yang memiliki brand sangat kuat. Saking kuatnya brand yang dibangun pemilik perusahaan itu, diakuisisi perusahaan lain hingga diperjual belikan. Misalnya saja Sampoerna yang diakuisisi Philip Morris Internasional dari keluarga Sampoerna dan publik. Fenomena demikian menggambarkan brand memiliki nilai jual yang tinggi dan banyak diminati. Sehingga tak salah rasanya pemilik perusahaan memikirkan matang nama brand yang akan dibangun.

Menurut Yuliana Agung, CEO dari Center for Customer Satisfaction & Loyalty (CCSOL) penggunaan brand terkesan asing lebih tepat jika digunakan untk produk yang menyasar segmen menengah atas. Pasalnya segmen ini sangat mengutamakan kualitas produk yang tentunya dapat meningkatkan gengsi bagi penggunanya. “Jika Anda memiliki produk dengan kualitas baik dan memiliki target menyasar kelas menengah atas serta target menembus pasar internasional, penggunaan brand dengan nama asing dapat meningkatkan image,” paparnya.

Hal senada juga dituturkan Daniel Surya, Country Director the Brand Union Indonesia. Menurutnya, berdasarkan survey yang dilakukan, 70%-80% masyarakat usia muda akrab menggunakan produk dengan nama asing atau terkesan asing. Peluang ini ternyata ditangkap oleh pengusaha lokal yang sengaja ataupun tidak menggunakan brand terkesan asing. Sebut saja J.Co Donuts and Coffee, Izzi Pizza, Hoka-Hoka Bento, Rice Bowl, Auto bridal, dan Zyrex.

Lebih lanjut dikatakan Daniel, kebanyakan UKM kita bermental pedagang bukan pebisnis. Para pengusaha kecil cukup puas dengan menghasilkan produk yang berkualitas dan laku dijual, kemudian dilabeli oleh pemilik merek asing seperti Adidas atau Nike Air. “Mengapa mereka tak membangun brand sendiri sehingga tak akan kolaps ketika hengkangnya pemilik brand adidaya tersebut,” tegasnya. Memang tak mudah membangun brand hingga dikenal dan konsumen menjadi loyal. Namun mengapa tidak ditumbuhkan brand tersebut seiring perkembangan kualitas produk. Tah, Aqua pun memerlukan waktu tahunan hingga brand-nya melekat di benak konsumen air minum dalam kemasan (AMDK)

Simpel dan Mudah Diingat

Kiranya hanya waktu, uang dan momentum yang dapat membuat brand dikenal dan mudah diingat konsumen. Jika Aqua memerlukan waktu tahunan untuk terkenal, berbeda dengan pemain lokal dengan brand terkesan asing yang sukses menyabet pasar donat indonesia, yaitu J- Co Donuts and Coffee. Tak perlu banyak waktu yang diperlukan Johny Andrean untuk mengenalkan brand barunya. Tentunya nilai investasi yang dtanamkan pun cukup tinggi sehingga brand J-Co akrab di telinga konsumen dalam waktu relatif singkat.

Pemlilihan nama J-Co sengaja dipilih Johny karena simpel, mudah diingat dan “terkesan asing”. Tak heran empunya bisnis memiliki target tembus pasar global. Terbukti, kurang dari tiga tahun usahanya berjalan, gerai J-Co hadir di Kuala Lumpur-Malaysia dan Singapura. J-Co mampu menyedot minat konsumen antre di 34 gerainya. Sebagian dari mereka menduga J-Co adalah franchise dari luar negeri seperti Bread Talk. Padahal J-CO murni produk lokal yang merupakan kepandekan dari Johny Andrean Company.

Bukan hanya J-Co yang brand-nya dikenal konsumen di Indonesia. TX Travel pun familiar di telinga pengguna jasa travel. Meski Anthonius Theddy, Managing Director dari TX Travel mengatakan, TX tidak sengaja dibuat asing. Tetapi tidak dipungkiri pelafalan TX dalam bahasa Inggris ternyata enak didengar dan mungkin lebih menjual. Begitu juga dengan X4 Print, perusahaan injek tinta dan toner printer ini sengaja memilih brand dengan nama asing. Menurut Michael P Rachman, pemilik X4 Print, penggunaan bahasa asing lebih cocok untuk bisnis di bidang komputer dan tidak dipungkiri lebih menjual, mudah diingat dan simpel karena kependekan dari eXcelent for Print.

Untungnya brand-brand yang terkesan asing tapi asli lokal itu memiliki kualitas produk premium dengan pelayanan memuaskan dan mengutamakan kelangsungan hidup mereknya. Karena bukan hanya sekadar berbau asing, ekspektasi konsumenpun menginginkan produk/jasa yang dibelinya memberi kepuasan dan tidak hanya mengharapkan untung besar.

Berikan Added Value.

Lantas bagaimana mereka memberikan kepuasan bagi konsumennya? Menurut Daniel, bukan hanya memberikan produk yang berkuaitas. Memberikan added value (nilai tambah) dan menyentuh sisi emosional dapat meningkatkan loyalitas konsumen. Contoh saja J-Co yang memberikan nuansa berbeda bagi peminat donat dan kopi. Sekarang konsumen bukan sekadar membeli donat lalu dibawa pergi. J-Co mengajak konsumennya duduk santai di tempat yang disediakan layaknya sebuah kafe. Mengusung konsep kafe Johny sukses menyediakan tempat hangout dan menciptakan lifestyle bagi masyarakat perkotaan. Tak heran J-Co menjadi brand yang cukup diingat konsumen ketika mencari donat. Bukan hanya J-Co yang memberikan nilai tambah bagi konsumennya hingga rela merogoh kocek sekadar menikmati donat dan kopi. X4 print pun tak mau ketinggalan memberikan added value bagi konsumennya. “Kami ingin memberikan nilai lebih dari kompetitor. Kami memberikan solusi servis gratis bagi pemakai tinta X4 Print,”ujar Michael. Diharapkan penggguna X4 Print loyal karena X4 Print memberikan solusi bagi konsumennya.

Masalah memberikan pelayanan TX travel memang jagonya. “Kami melayani konsumen dengan sepenuh hati seperti melakukannya untuk sendiri,” terang Anthonius. Dengan jargon terbang hemat, kami Kami carikan harga paling hemat, TX travel semakin mengukuhkan sebagai brand terkenal murah dan pelayanan yang memuaskan. Menurut Anthonius, awal merintis usaha tak banyak orang mengenal TX Travel. Namun saat ini di benak para agen tour dan travel atau pun konsumen pengguna jasa tiket, hotel, tour TX Travel adalah solusi tiket murah.

TIPS Membuat Brand Usaha

1). Sedapat mungkin brand yang akan dipakai simpel mudah diucapkan sehingga mudah diingat. Namun, apalah arti sebuah nama jika brand yang diusung tak memiliki arti. Sudah seyogyanya brand pun memberikan arti bagi konsumennya. Misal jika ingin mendapatkan tiket dengan harga murah dan hemat pasti banyak yang ingat TX Travel. Caranya gampang, berikan pelayanan super istimewa kepada pelanggan. Sebagai pengusaha, coba tempatkan diri Anda sebagai konsumen. Tentunya jika di posisi ini Anda ingin mendapatkan pelayanan yang memuaskan, murah dan kualitas produk yang baik. Jika Anda telah dapat memposisikan diri tersebut, brand jauh lebih bermakna dan menancap di benak pelanggan.

2). Brand sebaiknya dipilih bukan yang memiliki pengertian lain jika diterjemahkan ke bahasa lain. Misal Restoran Thai Food. Mungkin arti Thai kependekan dari Thailand. Namun bagi orang awam memiliki pengertian yang tidak sedap. Begitu juga dengan restoran Sundanese Food di Singapura. Banyak yang menyangka restoran tersebut adalah restoran Sudan yang menyajikan makanan Afrika, padahal merupakan restoran yang menyajikan makanan Sunda (Asia). Sehingga tak tepat jika diterjemahkan dalam bahasa lain. Jika harus pilih-pilih nama brand agar tidak disalahartikan.

3). Mem-branding produk atau usaha bukan lagi hal yang generik (umum). Buat pelanggan penasaran terhadap nama sebuah brand. Misalnya J-Co atau TX. Mungkin jika tanpa digantungkan dengan donuts and coffee atau trael di belakang kedua kata tersebut, pelanggan tentunya menjadi penasaran. Walhasil menjadi daya pikat bagi pelanggan untuk mengetahui lebih lanjut. Branding inipun bukan lagi harus sesuai dengan arti atau singkatan misal saja Ritel Therapy. Sekilas Anda menerka adalah usaha yang ada kaitannya dengan salon. Padahal Ritel Therapy adalah butik pakaian dengan pemesanan customize.

4). Ada baiknya branding menyentuh sisi emosional dan memberikan added value (nilai lebih) bagi pelanggan. Misal saja brand Apple, Starbuck Coffee, Nike, yang telah memiliki branding yang kuat dan bukan sekadar produk yang ditawarkan tetapi sudah menyentuh sisi emosional, added value hingga memberikan gengsi dan menjadikan sebuah lifestyle bagi pelanggannya.

5). Memilih brand disesuaikan dengan segmen market yang akan disasar. Misal jika menyasar kelas menengah atas jangan ragu menggunakan brand yang terkesan asing. Namun brand terkesan asing akan menjadi tak tepat jika digunakan untuk restoran meski menyasar menengah atas. Misal saja Dapur Sunda, Bumbu Desa, Wong Solo. Tentunya branding pun disesuaikan dengan produk yang ditawarkan. Ternyata penggunaan brand asing ini pun bukan hanya milik pemain besar yang menyasar kelas menengah atas. Red Crispy misalnya. Usaha yang menyasar kelas menengah dan low end ini pun laris di pasaran dengan menggunakan nama asing dengan harga yang terjangkau konsumennya.

Incoming search terms:

pengertian tiket, analisis usaha salon, contoh brosur restoran, definisi konsumen menurut para ahli, contoh brand asing dari indonesia, gambar usaha ritel, kenapa memilih brand asing
Be Sociable, Share!


Category: Peluang Usaha

Leave a Reply

*